Dilema Menjadi Ibu RT sekaligus Bekerja di Usia Muda

Pede banget ya judulnya ditulisin usia muda, hihihi…… :p

Mau curhat panjang nih. Jaman waktu kecil dulu keluarga saya termasuk yang jauh dari kata pas-pasan… Ibu saya dari awal menikah belum pernah bekerja. IMHO, Beliau adalah ibu Rumah Tangga (RT) terbaik yang pernah ada. Hanya saja ibu saya selalu merasa kesulitan apabila sudah menyangkut keuangan.

 

Keadaan terbantu ketika ibu saya menjadi penjahit rumahan. Sehingga sejak kecil, saya selalu mengultimatum diri agar bisa bekerja di rumah dan menghasilkan uang sendiri. Jadi tidak tergantung dengan suami. Otomatis bantu orang tua dan adik serta keluarga dengan leluasa. Maklum, keluarga saya merupakan tanggungan tetap karena ayah saya sudah tidak bisa bekerja.

Tetapi BUKAN karena ada masalah keuangan di rumah tangga kami (saya dan suami). Alhamdulillah menurut saya, keuangan rumah tangga kami sudah tergolong sangat baik berkat suami tercinta. Hanya saja sering sekali ibu-ibu susah komunikasi sama suami kalau mau bantu orangtua sendiri karena harus minta ‘jatah’ lebih. Suami saya sebenarnya tidak keberatan. Cuma saya merasa malu karena suami juga punya tanggungjawab terhadap orangtuanya sendiri (mertua saya) yang keadaannya sama dengan keluarga saya. Belum lagi harus membiayai kebutuhan rumah tangganya yaitu saya dan anak.

Dan masalah dilema dimulai ketika saya dihadapkan dengan lingkungan sosial. Seringkali saya selalu terperangkap dalam perdebatan panjang saat membicarakan sampai sejauh mana sebaiknya seorang perempuan bekerja. Padahal ketika sudah memilih untuk menjadi ibu RT sekaligus bekerja saya sudah memikirkan segala konsekuensinya. Yang jelas, sebagai seorang ibu pastinya menginginkan pilihan terbaik buat keluarga khususnya anak tercinta.

Saya ingin berdamai dengan semua orang (yang beranggapan miring) di sekitar. Banyak yang bilang saya ini sudah kehilangan waktu berharga bersama anak dan merepotkan orangtua. Setiap kali menitipkan anak dirumah bersama orangtua, saya selalu memohon maaf. Mereka pun membalasnya dengan bilang daripada tidak melakukan apa-apa lebih baik membantu saya sekaligus bermain bersama cucu tersayang.

Punya orangtua yang bisa diandalkan untuk mengurus bayi/anak di masa sekarang ini adalah sebuah kemewahan yang sangat luar biasa. Saya bersyukur sekali. Insyaallah saya sudah meluruskan niat bekerja. Bukan untuk diri sendiri saja, keluarga juga. Dan yang terpenting itu mempersiapkan mimpi generasi berikutnya, yaitu anak-anak.

Ketika ada yang memilih menjadi ibu RT, masalah tidak akan berhenti disitu saja. Seorang ibu yang memantapkan niat dan diri dengan pilihan dirumah saja full mengurus anak dan suami ternyata mempunyai masalah dengan lingkungan sekitar juga.
Biasanya mengurus anak itu hanya dinikmati sampai anak belum sekolah. Setelah itu harus mencari kegiatan positif sebagai apresiasi terhadap diri sendiri. Secara, anak sudah mulai mempunyai ruang lingkup pergaulannya masing-masing. Walaupun memang mengurus remaja jauh lebih sulit ketimbang mengurus bayi/anak kecil. Hanya saja tidak jarang anak yang sudah beranjak dewasa malas untuk di-kepo-in sama ibunya, hehehe…. Jadi kalau sebelum menjadi seorang istri dan ibu tidak mempunyai hobby yang spesifik. Bisa-bisa saya ‘jumpalitan’ gangguin pekerjaan suami terus karena tidak sempat menemukan minat yang akan dikembangkan dalam mengisi waktu luang.

Hal tersebut bukan semata-mata pembenaran untuk saya sendiri. Sedikit cerita pengalaman hidup seseorang nih… Saya punya teman, beliau adalah seorang istri dan ibu yang hebat dari anak-anaknya yang sudah beranjak remaja. Tetapi setiap hari mengeluhkan tidak ada yang bisa dia kerjakan. Pekerjaan rumah sudah diurus sama PRTnya dari mulai memasak hingga beres-beres. Lalu anak-anaknya mempunyai kegiatan masing-masing. Tinggalah dia sendiri beserta suami yang bekerja dirumah (suaminya seorang entrepreneur). Setiap suaminya mau meninggalkan rumah untuk urusan bisnis, contohnya seperti menemui suami saya, istrinya sering merajuk untuk tidak meninggalkannya di rumah. Dia suka melakukan kegiatan seperti pengajian atau arisan juga tetapi tetap saja merasa ada yang kurang. Kalau sudah begini biasanya suami mengeluh, istri tidak ada kegiatan dan orang disekitar pasti menyalahkan istri kenapa tidak mencari pekerjaan atau hobby.

Bekerja salah, Jadi Ibu RT juga masih salah. Saya pun yang berada ditengah-tengah itu selalu aja paling banyak salahnya dimata sebagian orang. Maunya apa atuh? :(

Ada Quote bagus dari teman yang pernah saya baca tentang Aturan 18/40/60, Dr. Daniel Amen, yaitu :

“Ketika berumur 18, kau mencemaskan pendapat semua orang tentang dirimu; Ketika berumur 40, kau tak peduli apa pendapat orang lain tentang dirimu; Ketika berumur 60, kau sadar tak ada orang yang pernah memikirikanmu…”

–Orang seringnya tidak pernah memikirkan anda secara serius. Mereka terlalu sibuk mencemaskan kehidupan mereka sendiri. Jika toh mereka memikirkan anda, mereka justru memikirkan pendapat anda tentang mereka…

Dijudul saya menuliskan di usia muda. Karena kalau diusia 40 tahun keatas, bisa jadi saya sudah punya pandangan lain yang lebih baik dan tidak peduli lagi terhadap lingkungan sekitar. Hehehe…..

Saya sangat peduli dan ‘riweuh’ banget ngurusin pendapat orang karena ingin rasanya bahagia menghadapi lingkungan di sekitar yang memberikan dukungan, meringankan setiap langkah saya menjalani kehidupan. Karena saat komentar miring datang, ibu muda mana yang bisa tahan? Hidup yang dilalui, tak pernah selesai dengan urusan pendapat. Naluri yang kita bawa tidak menutup kemungkinan akan mendapat kritikan. Dan sesuatu yang kita kerjakan pasti akan mendapat komentar. Sangat banyak ibu-ibu diluar sama yang selalu dihakimi oleh lingkungan sekitarnya. Padahal hidup mereka sudah berat, mau Ibu RT ataupun Ibu bekerja, (atau ibu jadi-jadian kaya saya, hehehe) kasihanlah kalau masih harus ditambah masalah ‘lain’.

IMG_5422

Ibu-ibu itu pengennya dibikin happy bukan dipancing emosi apalagi membuat sedih. Kalau ga bisa bikin happy ya setidaknya biasa saja. Tidak usah kasih yang ‘miring-miring’ nanti pusing :D Hargai setiap ibu dengan ketulusan, mau bekerja atau tidak. Karena semua manusia pasti memiliki seorang ibu dan mereka adalah ibu yang berjuang untuk anak dan juga dirinya. Tegur dengan baik, ajak bicara kalau memang salah. Berikan masukan atau solusi, jangan cuma main komen aja. Emangnya THE COMMENT…. hehehe :p

Tapi saya juga tahu dan sadar bahwa apapun yang saya tulis ini tidak akan pernah merubah pandangan setiap orang apalagi menenangkan keadaan tentang ‘perdebatan abadi’, serta mencegah pemikiran dan ucapan sinis orang lain. Mereka punya hak masing-masing untuk beragumen. Setidaknya saya sudah berusaha menyampaikan uneg-uneg. I don’t loose anything after all, I only gain more time to do what I love and being with the family together at the same time! Udah gitu aja :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment *