Drama Menyapih Anak

Bagi saya, menyusui adalah momen yang paling tidak bisa tergantikan selama menjadi ibu. Padahal karena menyusui saya harus melupakan untuk memiliki payudara yang kencang. Karena menyusui, saya harus banyak makan dan saya juga sudah melupakan untuk memiliki tubuh indah seperti sediakala. Karena menyusui, diet setelah melahirkan tidak akan pernah bisa dijalani. Namun disana saya merasakan bahwa hubungan saya dan anak semakin dekat. Saya begitu bahagia karenanya.

Hanya saja karena ‘banyak hal’, dengan berat hati saya putuskan untuk menyapih rafa, anak pertama saya. Menyapih bukan keputusan mudah. Mau belum saatnya atau sudah tiba saatnya, saya rasa sampai kapanpun saya tidak akan pernah siap :’ (

Melakukan proses menyapih secara perlahan bagi saya itu amatlah susah. Saya sudah mengurangi secara bertahap frekuensi menyusu rafa yang luar biasa banyaknya. Secara perlahan saya ubah kebiasaan menyusuinya sedikit demi sedikit hingga akhirnya mau tidak mau harus berhenti. Saya juga sudah mengalihkan perhatian rafa dengan hal-hal yang dia sukai seperti bercerita, menonton kartun anak favoritnya, bernyanyi, bermain sampai kelelahan, tapi tidak ada yang bisa membuat dia lupa total dengan ASI saya. Sehingga pada hari-H saya seperti menjadi orang yang jahat! :(

Sebenarnya saya sangat menghindari menyapih secara mendadak. Saya takut karena hal ini sangat dapat menyakitkan hati rafa. Perasaan yang bercampur aduk antara sedih, kecewa, hancur, dan perasaan bersalah secara mendalam itu saya rasakan sekarang karena bisa dibilang saya memaksa anak untuk tidak menyusu. Saya sangat takuuuttttt acara menyapih sekarang merusak ikatan batin dengan rafa yang sudah terbentuk sejak rafa dilahirkan.

Setiap Rafa menangis meminta ASI saya tidak bisa berhenti menitikan air mata karena tidak tega. Pada hari itu dimana saya harus menyetop ASI untuk rafa, seharian penuh kami berdua benar-benar kehilangan semangat, berbagai macam emosi kami keluarkan. Sampai-sampai saya merasa bahwa kadang rafa membenci saya karena menyapihnya dengan memberi sesuatu yang pahit pada puting saya. Hingga memaksa rafa untuk tidak menyusu. Opini-opini yang tidak enak karena melakukan proses menyapih dadakan sering mengecilkan hati saya. Perasaan saya sangat kacau, carut marut, sedih… Saya tetap berusaha berpikir positif dan mengabaikan omongan negatif dari orang lain. Saya dapat bertahan karena dukungan dari orangtua dan suami saya serta beberapa teman yang mengetahui keadaan sebenarnya.

Walaupun teramat sangat sedih tidak bisa memberi ASI sampai dua tahun karena ‘banyak hal’. Tapi tetap bersyukur masih bisa memberikan Rafa yang terbaik selama 20 bulan.

Saya berharap setelah proses drama menyapih ini selesai, yang dicari rafa pada diri saya bukanlah hanya sekedar ASI, tapi karena saya adalah ibu yang menyayangi dia sepenuh hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment *