I Hate it When You Asked…

Biasanya orang hidup itu ada aja yang dibikin susah. Apa-apa pasti dikomentarin. Gak akan jadi masalah sih kalo komentarnya biasa saja. Tapi sayangnya memang definisi biasa bagi setiap orang berbeda. Contohnya, kalau lagi sendiri, pasti ditanya, mana pasangannya atau udah ada calon blom, yang lebih parah lagi, kapan nyusul? Lah meneketehe…. Urusan jodoh kan ga bisa direncanain atau dipaksain.

Jangan harap sesudah mempunyai pasangan dan menikah, masalah akan selesai. Justru yang paling nyebelinnya itu disaat-saat sepeerti ini nih :

X : “Udah “isi” blom?”

Chimod : “Isi apa? klo isi lemak mah udah banyak” (-_-“)

X : “Ya bukan, maksudnya isi bayi atuh”

Chimod :”Oowh, belom”

X : “Loh, ko blom? Temen saya yang kemaren sama nikah udah isi tuh”

Chimod : “memang belom dikasih aja mungkin.”

Tidak sedikit orang menganggap pertanyaan “udah ‘isi’ blom” sebagai pengganti kata sapaan “Hai”, “Halo”, atau “Apa kabar” padahal ada beberapa pertanyaan yang sebaiknya tidak ditanyakan dalam kehidupan sosial. Contohnya ya itu. Yang lainnya seperti : “kapan married, kapan punya anak, kapan nambah anak lagi”

Banyak yang berpikir, apa sih yang seperti itu biasa saja, ko harus dipermasalahkan?

Cobalah sekali-sekali jadi ada di posisi yang ditanyai. bisa saja ia sudah mendapatkan pertanyaan itu ribuan kali.  Pikirkan jika ditanyai hal yang sama berulangkali oleh orang yang berbeda-beda. Apa ga cape? ga ‘gondok’ perasaannya?

Terlebih lagi kalau yang ditanya memang belum hamil. Ini sifatnya pribadi, rasanya tidak perlu bikin konferensi pers supaya semua orang tahu. Banyak alasan mengapa wanita yang sudah menikah itu belum atau susah punya anak. Lalu harus terus menerus menjawab pertanyaan yang sama. Kalau memang sudah hamil, toh, pastinya dia mau dunia tahu dan akan memberi pengumuman ke seluruh dunia dengan sukacita, tanpa harus ditanya lebih dulu. Ga nyebarin berita juga nanti dalam beberapa bulan pasti terlihat kehamilannya.

Kalau menurut saya pribadi pertanyaan seperti itu sifatnya hanya memuaskan rasa ingin tahu YANG NANYA TANPA memikirkan perasaaan yang ditanya. Beda lagi ceritanya kalau memang yang bertanya itu keluarga atau kerabat dekat yang memang peduli.

Tidak ada salahnya berusaha lebih peka sebelum bertanya. Untuk sebagian orang pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diartikan sebagai bentuk perhatian teman kepada temannya. Mungkin kata ‘teman’ itu perlu diredifinisi kembali.

Sorry ‘friend’, You’re not helping me at all…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment *