Just Be (The Best Version of) Your Self

Jadi wanita itu kadang serba salah.

Dari kecil hingga sekarang sudah punya anak pun sifat membanding-bandingkan antara satu dengan yang lainnya selaluuuuu saja adaaaa. Tidak pernah hilang dimakan usia dan tampaknya akan kekal abadi sepanjang masa. Kesal sih kesal banget. Tapi ya mau gimana lagi. Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain saya sangat mengerti untuk tidak mempermasalahkan hal yang dibilang kaum laki-laki itu sepele. Disini saya hanya ingin membagi unek-unek dan opini yang sudah mengganjal sedari dulu.

Kegiatan saya sehari-hari selain mengurus rumah tangga itu adalah berselancar di dunia maya. Karena ‘audience’ saya kebanyakan para wanita juga, mau ga mau, hampir setiap hari dan sudah terbiasa melihat adu debat antara wanita satu dengan lainnya. Saling mengungkapkan pendapat yang dianggap paling benar. Dari mulai hanya kata-kata sampai Sindiran-sindiran berbentuk meme (gambar diinternet yang diberi tulisan, atau cerita yang isinya kadang benar, kadang lebay dan sering ‘menohok’ alias ‘makjleb’) pun ada, komplit pol!

Semuanya memang tidak ada yang salah. Tapi tidak sepenuhnya benar juga. Karena masing-masing orang tidak memiliki pikiran yang sama. Selama niatnya benar dan positif seharusnya sah-sah saja. Saya kadang kasian, tidak jarang ibu RT maupun ibu kantoran curhat di status masing-masing kalau sudah merasa tersindir. Dan ujung-ujungnya pasti selalu saja dikait-kaitkan dengan profesi. Padahal kan tidak ada ruginya menyemangati tanpa menghakimi. Memangnya ga cape hidup kaya gitu terus? Tiap hari saling sikut mengobarkan propaganda yang menjatuhkan sesama kaumnya.

Banyak OKNUM yang menjadikan ibu-ibu jadi beberapa kubu. Diantaranya kubu ibu rt, kubu ibu kantor. Ada juga kubu asix, kubu SC,  kubu lahiran normal dll. Semuanya saling serang. Saling sikut. Yang satu sikut yang lain. Bilang bukan wanita sempurnalah kalau tidak dirumah, bilang ga sayang anaklah, ga urus suamilah, dll. Yang satunya ngebales lagi dengan sindiran-sindiran yang halus namun menohok. Banyak ‘pembenaran-pembenaran’ yang dilontarkan juga. Pokonya rata-rata kalau didengar bikin sakit telinga kalau dibaca bikin sakit mata. Sampe pusing bacanya.

Oknum-oknum yang paling parah dan arogan dan merasa bener sendiri itu adalah kubu ibu-ibu jadi-jadian (biasanya disebut profesional housewife, halah lebay bingits yak :p) yang kerja tapi sambil dirumah juga. Jadi ceritanya sih bisa ngurus rumah tangga plus dapet penghasilan. Saya bilang OKNUM loh, BUKAN semua ya! Dan sayangnya harus diAKUI bahwa SAYA SEMPAT TERMASUK OKNUM itu juga. Saya sempat khilaf, gelap mata tidak bisa melihat yang lain, jadi arogan, hanya fokus pada diri merasa benar sndiri dan egois waktu itu.

Padahal saya ataupun mereka sadar ga sadar butuh semua profesi yang dimiliki, baik itu ibu dirumah maupun (apalagi!) ibu yang bekerja. Saya harus menyadari bahwa kodrat wanita memang mengharuskan wanita mengurus rumah tangga. Kekuatan untuk mengurus rumah tangga itu tidak pernah bisa disepelekan. Dan ibu yang full dirumah itu mengingatkan betapa hebatnya mereka. Begitu juga sebaliknya, saya juga sangat butuh tenaga ibu-ibu pekerja seperti perawat wanita, dokter wanita, cleaning service wanita, waiters wanita, guru/dosen wanita, psikiater wanita, dokter kandungan wanita, dan lain sebagainya. Memangnya kalau diperiksa kandungan saya mau dilayani sama dokter pria? Terus pas ke wc wanita kalau tidak ada ibu pekerja, memangnya mau celaning servicenya bapak-bapak atau mas-mas dan om-om? Aduuh mikirinnya aja saya udah ogah deh! Dibeberapa waktu saya pasti benar-benar membutuhkan tenaga bantuan dari sesama kaum juga yaitu wanita. Sekarang saya sadar betul bahwa semua orang ini butuh seseorang yang sempat  disindir profesinya. Dan saya merasa sangat malu.

Daripada menghina, meremehkan, satu sama lain, lebih baik menebar inspirasi positif tanpa membuahkan energi negatif, dan saling melengkapi. Bersama-sama menjadi wanita hebat yang bangga menjadi dirinya sendiri tanpa menyindir yang lain.

Wanita harusnya bisa menjalani peranan apa pun tanpa tekanan. Kalau masing-masing meyakini keputusan sendiri tanpa merasa perlu menghujat orang lain yang pilihanya yang berbeda pasti bisa adem ayem.

Just be (the best version of) your self.

2 Comments on Just Be (The Best Version of) Your Self

  1. Nurul Rahmawati
    September 25, 2014 at 1:48 am (3 years ago)

    Setuju banget dgn tulisan ini. Ya ampun, blog dan webnya keren2 deh. Good job!
    bukanbocahbiasa.wordpress.com

    Reply
    • Chimod
      October 29, 2014 at 11:06 am (3 years ago)

      Terima kasih Mbak Nurul. Blognya Mbak Nurul juga bagus dan inspiratif banget, saya sangat suka :)

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment *