My First Japan Trip – Day 5 – KiyomizuDera

Agenda hari ini kami akan menuju salah satu tempat wisata yang terkenal di Kyoto yaitu Kiyomizu-dera :D Alasan kami menginap di rumah Seiko-san itu biar dekat ke tempat ini. Rumah Seiko-san berada di daerah Higashiyama. Kalau mau ke Kiyomizu-dera tinggal jalan ke halte bis terdekat melewati (kira-kira) 3-4 stasiun saja lalu turun di halte Kiyomizu-michi. Sebenarnya bisa berjalan kaki juga, hanya saja kami kurang kuat kalau harus berjalan tengah hari pada musim panas. Dan karena kuil ini ditempatkan di dearah agak dalam, jauh dari jalan besar. Jadi setelah sampai di Kiyomizu-michi, kami tetap harus jalan lagi sekitar 10 menit. Sudah begitu jalanannya nanjak pula! Haha… Ada jasa angkutan seperti gerobak (menyerupai becak di kita) tapi yang ini ditarik memakai tenaga manusia. Manusia nya pun laki-laki yang berbadan ‘macho’…. uwoow!

( kalau jalan kaki dari apartement kurang lebih cuman 20-40menitan, katanya sih :p Itu pun perhitungan kecepatan jalan kaki orang Jepang, kebayang donk kecepatan kami yang notabene bukan orang sini, hoho ‘ripuh’ mak! >_< ),   Ampun bah! Dan Mohon maaf apabila saya ga lengkap jelasinnya, hehehe….

Kiyomizu-dera ini termasuk salah satu kuil yang wajib jadi tujuan wisata. Dan pastinya kuil ini sudah terdaftar sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Kiyomizu-dera dibangun tahun 1633. Kuil ini mengambil nama dari air terjun yang mengalir ditebing bukit. Yaitu Kiyomizu yang artinya adalah air murni atau suci. Sedangkan dera artinya kuil.

Kyoto pun identik dengan Kiyomizudera. Diantara ribuan kuil besar dan kecil yang tersebar, Kiyomizudera adalah kuil utama dan terbesar di Kyoto. Tidak hanya itu, kuil ini juga terkenal karena konon katanya seluruh bangunannya terbuat dari kayu, tanpa penggunaan paku satupun. WOW!

Kuil disini letaknya ditempat yang tinggi sehingga menjadi nilai tambah juga. Pemandangan kuil yang pastinya sangat mengagumkan. Jika dilihat dari bawah, struktur kuil ini sangat kokoh dan gagah.

chimod on kiyomizudera

Walaupun kami tamasya ke Jepang saat musim panas, tapi kami kesini pas low-season. So, kami jarang mendapati antrian panjang, menuju bagian dalam kuil pun lancar. Katanya kalau musim liburan atau di high-season, menjelajahi tempat ini harus antri panjang dan terseok-seok. Sebelum masuk ke area kuil, kami harus beli tiket dulu (kalau tidak salah) harganya 500 yen. Tiket ini nanti untuk ditunjukkan ke bapak yang jaga di gerbang. Kalau lewat jalur bawah lewat arah terbalik (kurang ngerti juga sih gimana), katanya (lagi) kita bisa menjelajah tanpa bayar soalnya kuil bagian bawah nggak ada penjaganya.

Sebelum berkeliling, kami bertiga masing-masing menyewa satu set Yukata. Banyak tempat penyewaan yukata disini. Yukatanya pun macam-macam. Dari yang harganya murah sampai mahal pun tersedia. Kami pilih yang harganya paling standard saja :) Kalau beruntung bisa ketemu maiko dan photo bareng loh! :D

Mitos di kuil ini, (menurut penduduk setempat) jika kita berjalan dengan menutup mata (kurang lebih berjarak 100m) menuju batu buta (entah itu batu yang mana, mohon maaf >_<“) atau memejamkan mata sampai tepat di depan batu buta, maka keinginan kita akan tercapai. Dan untuk menguji kesetiaan hati pada pasangan, kita dapat mencoba batu peramal cinta. Caranya yang tetap sama, yaitu dengan memejamkan mata. Namun bila arah kaki kita tidak tepat menuju batu peramal cinta atau melenceng jauh maka hati kita masih memikirkan orang lain. Walaahh :p

Tidak jauh dari pintu masuk areal utama bangunan kuil, terdapat loket tempat meramal nasib. Kebanyakan wisawatan ga mau ketinggalan untuk menyerahkan sejumlah uang kepingan dan menunggu beberapa lama sampai petugas loket memberikan kertas hasil ramalan. Kalau dapat hasil ramalan yang kurang menguntungkan, para pengunjung diminta untuk mengikatkan kertas hasil ramalan yang jelek di salah satu cabang pohon maple yang lokasinya tak jauh dari bangunan utama itu. Dengan begitu, dewa akan mengubah ramalan yang kurang baik itu menjadi baik.

chimod on kiyomizudera

Wisatawan yang kesini pastinya disuguhkan beraneka ragam suvenir dan makanan khas Jepang sepanjang jalan. Di kiri kanan penuh dengan toko-toko yang menjual barang-barang kerajinan serta makanan khas untuk dimakan ditempat maupun untuk buah tangan. Rata-rata di toko kue nya kita sering dikasih sample gratis. Lumayaaannn :D Barang-barang yang dijual di sepanjang jalan menanjak menuju kuil itu buaanyyyyaaak sekali macamnya. Dan semuanya cantik! Aduuh gawat, bisa-bisa ga mau pulang nih! Kyahahaha!

Jika lelah dan lapar setelah mengelilingi areal kuil yang berbukit-bukit, para pengunjung dapat melepas letih di tempat yang banyak ditawarkan. Umumnya kafe atau restoran berada di taman asri yang rimbun. Suasananya sangat menarik dan nyaman serta kental dengan nuansa khas-nya Kyoto-Jepang. Pemandangan pohon sakura dan maple alias momiji dimana-mana. Sayangnya saat itu musim panas, jadi tidak terlalu kelihatan pohonnya. Soalnya masih pada hijau. Kami juga sempat singgah ke salah satu restoran yang dekorasinya Kyoto banget.

chimod on kiyomizudera

Ga terasa hari sudah gelap. Waktunya untuk kami undur diri dari tempat yang mengasyikan ini. Acara jalan-jalannya diakhiri oleh hujan yang lumayan membuat seluruh baju kami kebasahan. Untung hujannya tidak terlalu lama :D Karena hari sudah gelap dan matahari telah digantikan rembulan, kami setuju untuk pulang dengan berjalan kaki sambil melihat-lihat pemandangan sepanjang perjalanan. Tidak lupa mampir ke setiap toko souvenir yang ada di daerah ini. Baru juga toko ke tiga yang dimasuki suami sudah cemberut saja. Hihihi.

Sebelum kembali ke rumah Seiko-san, kami memutuskan untuk makan dulu di restoran India yang sejalan dengan arah pulang.

Sedikit sharing tentang barang bawa dari Indonesia, bagi penggemar pedas kalau mau ke Jepang wajib bawa sambal/saus/bubuk cabe dari rumah. Karena terus terang saja dari hari pertama sampai saat ini saya dan suami belum menemukan bumbu yang pedasnya seperti sambal buatan di Indonesia. Huhuhu. Setidaknya keputusan kami untuk singgah di restoran India ini sangat tepat! :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment *