Sukses Adalah Balas Dendam yang Terbaik

Sukses adalah balas dendam yang terbaik untuk mereka yang suka menghina.

Terilhami dari artikel yang saya baca disini dan disini.

jadi ikut-ikutan ingin berbagi cerita tentang bullying juga. Bullying/Bully/pembuli yang dimaksud saya disini adalah orang (atau orang-orang) yang terang-terangan mencela, menghina, dan mengejek. Definisi bully yang lengkap bisa dilihat disini. Inget dulu juga pernah mengalami hal yang serupa tapi tak sama.

Masa sekolah adalah hal yang paling menyenangkan. Tapi yang dirasakan saya dulu hanya saat SMA akhir (kelas 3/ kelas 12) saja. Mungkin karena sudah kebal terhadap sindiran-sindiran ataupun kecaman anak abg dan saya hanya bergaul dengan beberapa teman saja.

Saya menyesal karena di usia SD sempat menjadi bystander dimana saya hanya bisa diam saja melihat ada anak yang dibedakan perlakuannya. Pada saat itu saya tidak tahu bahwa hal tersebut termasuk Bullying. Berdasarkan dari artikel yang dibaca dan pengalaman pribadi memang benar masa SD adalah dimana masa anak-anak sudah mengetahui pentingnya pergaulan dan memiliki teman yang mendukung. Menyadari bahwa tidak semua orang sama, dan dapat dinilai dari apa yang mereka miliki seperti pakaian, jumlah uang jajan, jenis kulit dan rambut, etc… Akibatnya saya mendapatkan karma (gara-gara jadi bystander) saat SMP berlanjut hingga SMA.

Memiliki orang tua yang hidup pas-pasan jauh di kata sederhana membuat saya harus sekolah sambil bekerja juga. Hal itu saya nikmati sebagai pembelajaran dan pengisi waktu luang. Saya tidak terlalu ambil pusing dengan keadaan saat itu. Alhamdulillah saya masih bisa menikmatinya dengan riang gembira tanpa adanya keluhan yang berarti dan tidak membuat saya merasa malu. Kadang jadi joki photocopy, pesuruh saat jam istirahat, buruh bantu-bantu di koperasi siswa dan lain sebagainya.

Sederhana saja memang, berawal dari candaan rutin menyakitkan tentang kekurangan fisik maupun ekonomi, lalu menjalar keseluruh hal yang dianggap tidak memenuhi standar mereka. Hal yang seharusnya saya miliki dan tidak saya miliki pun dibahas disitu dengan sindiran-sindiran yang tepat sasaran. Membuat orang lain yang menyaksikan pun jadi ingin ikut-ikutan. Dulu saya sering diajarkan untuk tidak ikut-ikutan kalau ada yang nakal ataupun dijahili disekolah. Jadi saya sering membiarkan mereka bebas membuat lelucon yang tidak saya hiraukan. Tidak jarang saya jadi enggan dan malas untuk menuntut ilmu karena adanya tindakan itu.

Saya sudah berkali-kali mencoba bergaul dan berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tetap saja keadaan tidak membuat mereka berubah menjadi ‘welcome’. Untungnya saat itu saya mengerti bahwa banyak faktor yang mengakibatkan beberapa anak menjadi pembully. Jadi saya hanya bisa memakluminya saja. Toh, tidak ada yang bisa saya lakukan lagi karena curhat pada guru BP disekolah pun hanya memperparah posisi saya dimata para pembuli.

Sebenarnya yang jadi korban bully itu bukan saja orang yang kurang mampu, justru sering juga kejadian yang dibully itu notabene orang berada. Tidak hanya yang memiliki kekurangan fisik, yang cantik atau tampanpun kena sasaran bully. Yang berbakat dan tidak berbakat, yang pintar dan kurang pintar juga masuk kategori. Tergantung standar masing-masing (-_-“), pokonya yang kurang dari mereka atau yang melebihi mereka (pembuli) pasti jadi sasaran.

Sangat disayangkan, pembuli tidak tau bahwa orang yang dibuli itu setengah mati melawan perasaan minder selama masa sekolah. Orang tua dan guru selalu berpesan bahwa tetaplah berbuat baik kepada siapapun, betapapun buruknya perlakuan mereka terrhadap kita. Tetapi praktek tidak selalu tepat seperti teori. Mungkin untuk amannya kita juga perlu dididik agar mengetahui bahwa diri ini cukup berharga dan setiap insan manusia punya harga diri dan berhak diperlakukan dengan baik. Saya juga dulu salah karena bertindak terlalu pasif, harusnya saya dapat membela diri sendiri.

Tidak sedikit yang merasa “ah itu mah dulu, ga usah dipikirin, hal sepele juga…” dan lain sebagainya. Tetap saja hal sepele yang bodoh seperti itu susah untuk dilupakan (setidaknya menurut orang-orang yang mengalami), pasti disaat-saat tertentu dapat teringat kembali. But, don’t look back. Harusnya saya berterimakasih karena kalau bukan karena mereka-mereka ini, saya mungkin saja tidak akan bisa seperti sekarang. Memang terbukti nyata bahwa “Sukses adalah balas dendam yang terbaik untuk mereka yang suka menghina.”

Saya hanya bisa tertawa saat teman baik saya bercerita kalau ‘teman-teman’ saya yang dulu tidak percaya dengan keadaan saya sekarang dan mereka masih saja bilang ….. “Nita…??? Nita yang mana? Nita yang kurus, bongkok, sama kuper itu? MASSSAAAAAA SIIIHHHH???!!!” (seperti kesamber geledek kalau kata teman baik saya bilang) they’re STILL wondering why they’re left behind —– I love this reaction :3 :p

2 Comments on Sukses Adalah Balas Dendam yang Terbaik

  1. zata
    August 17, 2013 at 9:16 am (4 years ago)

    setuju banget..
    nikmat bgt ‘balas dendam’ dng cara konsentrasi memperbaiki diri agar lbh sukses, daripd sibuk mikirin hal gak penting dari org2 yg gak penting dlm hidup kita :)

    Reply
    • Chimod
      August 17, 2013 at 1:07 pm (4 years ago)

      Super skali mom, thanks for sharing :)

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment *