There’s Always a First Time for Everything

Judulnya jadi “quote of the month” buat buat saya di Bulan Februari 2015 ini. Selalu ada yang pertama untuk segalanya. Suatu hal yang dilakukan pertama kali itu selalu membuat terkesan. Kalau dilihat sesudahnya, It was really fun! Seru dan menyenangkan. Walau banyak juga diantaranya kerasa ga enak, deg-degan, bikin mikir, perasaan takut akan gagal dan akhirnya jadi malu juga.

Seperti pertama kali pergi ke sekolah, pertama kali persentasi di depan kelas/orang banyak, pertama kali suka dengan seseorang, pertama kali naik kendaraan umum yang besar (seperti kereta, perahu serta pesawat) atau pertama kali mengikuti lomba dan lain-lain. Saking banyaknya pasti tidak bisa disebutkan satu per satu dong, hehehe…. Awalnya mungkin banyak perasaan yang membebani pikiran karena takut akan kegagalan. Sehingga memberikan pikiran negatif bila hendak memulai sesuatu untuk pertama kali. Tapi kita harus tetap berusaha mendapatkan pengalaman baru buat pembelajaran di kemudian hari :)

 

Kegiatan yang sedang saya kerjakan belakangan ini juga merupakan pertama kalinya. Beberapa bulan kemarin bisa dibilang sekitar pertengahan tahun 2014 merupakan kali pertama saya memberanikan diri untuk daftar ke berbagai acara fashion show. Lalu beberapa waktu setelah saya submit, hanya ada satu pihak yang menerima koleksi saya untuk tampil di runway. Itu pun sudah mendekati akhir tahun 2014 kemarin. Saya sempat bingung karena waktu yang terasa sangat mepet dan tidak tahu harus bagaimana selanjutnya. Maklum namanya juga pertama. Dengan berbekal pengetahuan yang minim saya memberanikan diri untuk maju mengikuti langkah selanjutnya.

Persiapan acara itu pertama kalinya membuat saya mendesain baju dengan tenaga ekstra. Selain itu juga pertama kalinya mengharuskan saya untuk mengikuti beberapa kali Technical Meeting yang diadakan di ibukota. Saya sih ga keberatan dengan technical meetingnya. Yang membuat saya mati kutu adalah presentasi produk pertama kali ke panitia acara. Haduuuuhhhhh…..! Selama ini saya selalu lari dari kesempatan tampil di depan karena merasa tidak bisa.

Banyak sekali hal yang membuat saya malu disana. Dimulai ketika salah masuk gate kemudian salah masuk lagi waktu ke lift di salah gedung kantor besar Jakarta. Lalu melihat orang lain yang mengutus juru bicara, manager, public relation pribadi datang. Saya hanya bisa gigit jari karena jumlah team kami masih terbatas yang mengharuskan saya untuk terjun langsung di technical meeting-nya. Alhamdulillah saya punya teman baik sekaligus partner setia yang bersedia menemani. Lucunya lagi, salah satu tugas yang diberikan untuk presentasi produk adalah membawa ‘mood board’. Orang lain hanya membawa print-out dari rancangan ‘mood board’nya. Saya malah membawa ‘mood board’ pribadi saya sendiri yang berupa papan tulis kecil. Rasanya malu sekali, saya tidak kepikiran sampai sana. Tapi sudahlah, show must go on…. Dengan kepercayaan diri yang dipaksakan saya memberikan semua data-data yang diperlukan termasuk the real mood board milik pribadi. Hahahaha… Setiap ingat itu saya selalu tersenyum malu karena merasa konyol sendiri XD

Saya jelaskan sedikit tentang apa itu mood board untuk yang belum tahu. Mood board adalah suatu media, bisa berupa papan, buku, maupun katalog yang berisi kumpulan gambar, warna ataupun bahan sehingga dapat memberikan penjelasan mengenai ide image yang akan diwujudkan. Bisa berupa tempelan-tempelan gambar berasal dari buku atau majalah yang disusun agar dapat memberi gagasan secara visual. Moodboard merupakan media perencanaan bagi desainer agar sesuai dengan tema.

techmet chimod

Okay.. Back to topic. Ketika saya sudah melalui beberapa kali Technical Meeting. Saya jadi lumayan lancar berbicara di depan umum. Ya… walaupun belum handal seperti moderator kondang, setidaknya saya dapat menyampaikan aspirasi secara lisan dengan cukup baik. Sayangnya, masalah tidak hilang begitu saja. Justru masalah bagi saya yang lebih besar sedang menanti di depan saya sekarang ini.

Kenapa saya bilang itu masalah? Padahal ‘kan saya sendiri yang memutuskan untuk menjalankan dan mengambil kesempatan langka ini. Saya bilang masalah karena di hari yang sama (tanggal 27 nanti) sebelum acara fashion show dimulai, harus ada perwakilan dari brand yang hadir di press conference. Oh my God! Bicara di technical meeting yang hanya ada beberapa orang panitia saja jantung sudah berdegup kencang ga karuan. Apalagi ini, katanya wartawan yang hadir mencapai seratus! Somebody help me, pleaseeeeee :(

*nangis meraung-raung dipojokan*

Mengetahui hal itu, saya langsung mendaftarkan diri ke sekolah public speaking. Sayangnya, di beberapa kali pertemuan saya bisa dibilang tidak ada kemajuan sama sekali. Padahal orang lain yang mulai belajarnya sama seperti saya, sudah ada kemajuan walau sedikit tapi kelihatan. Jadi bukan karena materinya kurang bagus, alasannya karena saya sendiri yang salah. Saya pun lanjut mencari ahli hipnoterapi di waktu-waktu yang mepet.

Sekarang saya cuma bisa pasrah, tetap berlatih dan berdoa semoga press conference pertama kali saya berjalan lancar. Minimal tidak malu-maluin lah. Aamiin…..

At least, setiap hal pertama yang baru dirasakan, dilakukan, entah itu gagal atau berhasil pasti akan selalu ada hal baik di balik itu semua. Semakin banyak yang dilalui, semakin bertambah yang bisa dipelajari dan membuat introspeksi diri sendiri. Saya percaya akan selalu ada hal baik, jika kita mau melihatnya dengan cara yang baik.

Doakan saya ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment *