Tips Melatih Mental dan Naluri si Ibu Hamil

Dulu begitu saya hamil anak pertama, tiba-tiba saja saya selalu kebanjiran informasi dari berbagai pihak. Berbagai nasehat mulai dari jaga kesehatan, makanan, dokter pilihan sampe mitos-mitos yang sudah sering dijumpai juga ada. Mungkin kalau dijadiin buku udah paket A-B-C-D lengkap. Komplit deh pokonya! Belum lagi bacaan yang didapat secara viral di internet misalnya social media. Seperti kata pepatah, terlalu banyak sama buruknya dengan terlalu sedikit. Semakin banyak informasi yang masuk, maka semakin galau-lah saya pada waktu itu.

IMG_0781

Padahal kalo dipikir-pikir sekarang ini yakin sama naluri diri sendiri juga sudah cukup. Karena konon katanya naluri seorang ibu memang sesuatu yang kadang tidak bisa dijelaskan tetapi terasa sangat berpengaruh. Saya yakin sebagian besar ibu juga merasakannya. Berikut tips dan sedikit (banyak sih :p) curhatan dari saya berdasarkan pengalaman pribadi selama hamil anak pertama dan sekarang sedang mengandung yang kedua….

Ibu harus Berani menentukan pilihan

Mendengarkan nasehat orang memang sangatlah perlu. Tapi disamping itu kita juga harus berani memutuskan sesuatu sesuai kata hati, sepanjang tidak menimbulkan risiko bahaya bagi ibu dan bayi. Karena seringkali naluri seorang ibu merupakan sumber referensi terbaik. Apa yang dirasakan dan yang paling tahu tentang kita adalah diri kita sendiri.

Namun, bukan berarti harus menampik semua informasi yang masuk ya. Semua saran yang diberikan juga harus senantiasa diterima dengan baik. Banyak nasehat dari orang tua dan keluarga maupun kerabat dekat yang peduli pada kita sebagai orang yang akan jadi ibu maupun yang sudah.

Cuek sama ‘perbandingan’ dan tekanan ‘kanan-kiri’

Bagi ibu baru pastinya banyak masukan juga dari ibu-ibu lainnya yang berniat menyampaikan success story-nya masing-masing. Hal itu sama sekali ga ada salahnya kalau mengedepankan motto ‘sharing is caring’… Nah, masalahnya muncul ketika ada sekelompok buibu yang memiliki sense of belonging berlebih dan cenderung jadi kearah merasa superior. Ibu baru otomatis kebanyakan bakalan merasa tertekan dan seperti berada di posisi inferior. Inferior itu sendiri merupakan kebalikan dari Superior, yaitu sebuah perasaan tidak lengkap dan tidak sempurna, jatuhnya seperti rendah diri gitu. CMIIW yaa…. ^_^ Ini yang bahaya, karena dapat memperburuk keadaan. Padahal kan yang namanya bumil itu ga boleh merasa stress. Kasian nanti janinnya bisa stress juga.

Maka dari itu kita harus berani mengabaikan berbagai tekanan yang datang dengan cara melatih tingkat ke-cuek-kan pada diri masing-masing. Hahahaha… Remember moms, ketika kita merasa tak sanggup untuk melakukan sesuatu sesuai dengan harapan orang lain, maka jangan paksakan melakukannya. Cuekin aja we lah!

Kita ga perlu mengukur kemampuan berdasarkan parameter orang lain. Karena tiap ibu memiliki situasi dan kondisi berbeda-beda. So, ga bisa donk kalo harus dipukul rata. Yakini naluri kita sebagai ibu yang menginginkan semua hal terbaik untuk si buah hati. Setelah itu cukuplah kita bersyukur atas kondisi saat ini.

Face it, Accept it, Deal with it, Then Let it go

Sewaktu beres melahirkan anak pertama, saya sempat merasa stress karena ASI terlambat keluar. Padahal saya sudah mempersiapkan semua dengan benar sesuai anjuran dokter maupun orangtua. Yang membuat saya panik adalah banyak diantaranya yang menyarankan saya menyerah saja dan memakai sufor. Mengingat ASI belum juga keluar padahal sudah beberapa hari setelah melahirkan dan mereka semua mengkhawatirkan keadaan bayi yang belum juga mendapatkan haknya. Untungnya semua suster yang saya temui memberikan semangat dan dukungan yang luar biasa. Pada akhirnya sehari menjelang keluar dari rumah sakit, ASI saya berhasil keluar dan anak saya berhasil mendapatkan hak eksklusifnya.

Kemudian di tahun lalu saat anak belum mencapai usia 2 tahun, saya harus menerima kenyataan bahwa seringkali situasi tidak bisa sejalan dengan ekspektasi. Anak saya yang direncanakan akan diberikan 2 tahun ASI tidak bisa terlaksana karena berbagai hal. Saya sempat uring-uringan ketika terpaksa menyapihnya. Saya juga sering mendengar perkataan orang tentang keterlambatan anak saya berbicara. Ga cuman itu, berat badan anak pun dijadikan masalah. Gara-gara itu saya jadi mencari berbagai pembenaran dan merasa sibuk sendiri. Hasil yang didapat dengan meladeni itu semua hanyalah perasaan lelah. Padahal kalau fokus dengan situasi sendiri tanpa memikirkan pendapat orang lain saya bakalan merasa relaks dan fine-fine aja.

Mengingatkan diri sendiri bahwa kita adalah ibu yang kompeten, sanggup mengatasi setiap tantangan yang ada. Karena bagaimanapun parenting selamanya akan menjadi isu para wanita. Legowo dan mengakui bahwa selama ini kita sudah bekerja dengan baik. Bangga dan hargai diri sendiri, karena telah berusaha sekuat tenaga menjadi seorang ibu yang baik. Jangan lupa untuk meluangkan waktu buat Me-time biar ga stress ya bu :p

Memang wajar untuk memiliki harapan ideal atas sesuatu. Tetapi kita juga tidak mungkin dapat mengontrol setiap situasi agar selalu sejalan dengan harapan. Kadang kita juga perlu hal yang lebih realistis agar tidak memberikan beban yang tidak perlu dalam agenda kehidupan seorang ibu. Yang wajib kita lakukan adalah menciptakan kondisi dan lingkungan sehat untuk bayi kita nantinya.

Tapi Bukan berarti kita harus menghilangkan harapan itu sendiri ya moms :)

Setelah mengalami semua pengalaman tersebut saya jadi merasa harus lebih PD dan melatih naluri keibuan dalam diri. Dengan berusaha menjadi yang terbaik untuk anak-anak. Karena apa yang sudah dimiliki belum tentu akan terus kita miliki. Pada dasarnya semua merupakan titipan semata. Hehehe… sejak kapan ya nulisnya jadi serius beginih :p

Semoga apa yang saya tulis dapat bermanfaat sekaligus pengingat untuk diri sendiri agar dapat menjadi lebih baik lagi dalam menjalani peran sebagai seorang ibu.

IMG_1269

Last but not least, terkadang jika naluri kita sebagai ibu sudah mengatakan sesuatu, ikutilah kalau memang demi kebaikan anak kita. Karena yang harus menghadapi konsekuensi dari semua pada akhirnya gak lain dan tidak bukan adalah anak dan kita sendiri. Maaf kalo postingannya agak ngelantur dan banyak ga nyambungnya.

Semangat Mommiesss….. ^_^

Cheerss~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment *