Titipan Terindah dari Tuhan

Sebenarnya saya tidak mau mengungkit hal ini. Tapi disisi lain saya juga ingin mengenang sebagai bentuk pengingat bahwa saya tidak boleh menyia-nyiakan apa yang sudah Tuhan berikan pada saya.


Pada akhir bulan april keluarga kami sedang sangat berduka. Adik ipar saya, Aldi yang sholeh telah berpulang ke Rahmatullah, hal yang pertama terlintas di benak saya adalah penyesalan yang teramat dalam mengapa tidak menghabiskan waktu lebih banyak untuknya. Tetapi yang pulang tidak akan kembali. Keluarga ikhlas, karena kita semua pada akhirnya memang harus pulang. Tinggal menunggu waktunya saja.

Melihat ibu mertua yang lemas karena hilang separuh belahan jiwanya, saya jadi semakin sedih dan berpikir alangkah sakitnya bila Tuhan mengambil kembali titipan terindahnya ini. Sewaktu rafa kurang sehat saja, semangat dan jiwa ini rasanya sudah melayang separuh. Rapuh. Padahal kalaupun memang ternyata saya yang harus pergi terlebih dahulu, anak bisa dirawat oleh siapa saja. Apalagi jika usianya masih sangat kecil. Anak mungkin bisa menghapus ingatan tentang kedua orangtuanya. Berbeda keadaannya jika orang tua yang kehilangan, membayangkannya saja saya sudah tidak mau.

Seringkali saya menemukan dan membaca sebuah surat berantai biasa yang dikirimkan secara bergiliran oleh pengguna internet tentang dialog kegundahan seorang anak yang belum dilahirkan dengan Tuhan. Lalu disana disebutkan bahwa akan ada malaikat yang melindungi dan menjaga anak tersebut, yaitu ibunya. Padahal yang saya rasakan justru malah sebaliknya. (IMHO) Anak adalah malaikat kecil yang diberikan oleh Tuhan kepada saya. Anak tak pernah meminta dilahirkan. Tetapi kehadirannya memberikan banyak sekali kebahagiaan secara sadar dan tidak sadar. Sejak ada dua buah garis muncul di selembar testpack saja, kebahagiaan saya sudah tak terbendung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment *