What You See Isn’t Everything

Alhamdulillah…. Kalau kata orang lain itu, saya ini adalah salah satu dari sekian banyak orang yang paling beruntung dan bahagia di dunia. Karena banyak yang bilang hidup saya enak. Setidaknya itu yang dipikirkan mereka dan saya hanya bisa bilang Aamiin…..

Kadang bisa saja ‘Hidup Ga Enak Itu Enak’ dan ‘Hidup Enak itu Ga Enak’. Semua tergantung kita melihatnya dari sudut pandang mana.

Contoh yang paling dekat adalah diri sendiri. Dulu saya hidup serba irit. Bisa dibilang untuk ukuran yang biasa berkecukupan, hidup saya dulu Ga enak. Tapi saya merasa enak sendiri karena yang dipikirkan hanya fokus kepada keluarga. Mungkin tidak perlu dijelaskan lagi karena sering dibahas, hehehe….

Beda banget sama sekarang. Hidup saya kalau dilihat sekilas sama orang lain, banyak yang bilang enak. Padahal ga selalu enak sepenuhnya. Bukan berarti saya ga mau bersyukur ya. Perbandingan saat susah dan senang itu jauh lebih banyak senangnya. Seharusnya saya ga usah terlalu memikirkan. Tapi yang namanya cewek apalagi ibu-ibu labil kaya saya ini suka agak lebay. Sekaligus emang pengen ‘curcol’ aja biar uneg-uneg tercurahkan, daripada dipendem sendiri, entar malah jadi penyakit :D *pembenaran* :p

Selain ruwet sama masalah rumah dan materi pekerjaan… Setiap tahu belum bisa mencapai target profit selalu merasa takut jika suatu saat harus mengatakan kepada team saya bahwa “sudah cukup sampai disini saja…”. Tidak terbayang melihat berapa banyak kening mengkerut dan hawa kekecewaan gara-gara keputusan berhenti dari seseorang yang selama ini selalu diturutinya. Saya bukannya takut ga ada pemasukan tambahan lagi. Istilahnya, kalaupun saya sudah tidak bekerja, ya tidak apa-apa. Toh saya masih punya suami yang bisa mencukupi kebutuhan saya dan keluarga. Tapi bagaimana dengan team saya???

Belum lagi masalah ‘oknum’ yang sering menghakimi tanpa mengklarifikasi. Bukan cuma itu, Team saya banyak yang sudah memiliki keluarga. Dan tidak hanya sekali saja saya mengalami pergolakan batin. Seperti yang telah saya alami beberapa waktu yang lalu, ‘pasangan’ dari salah satu anggota team yang merasa pasangannya tidak usah bekerja lagi. Sang ‘pasangan’ yang dulu susah, sekarang sudah bisa menghidupi keluarga mereka sendiri dengan sangat-sangat baik. Namun, pasangannya tetap bersikukuh untuk bekerja bersama saya. Dan itu yang membuatnya merasa kesal dan sebal terhadap saya. DUUUhhhh….! Rasanya Sakit hati banget, mengingat yang membenci saya sudah dianggap sebagai salah satu orang dekat. Kalau orang lain yang begitu, BODO AMAT!

Saya sih sebenarnya bisa cuek aja kalau tidak tahu. Masalahnya saya tahu dan tidak mau jadi alasan mereka untuk saling-silang pendapat antara satu sama lain. Bahkan suasana tempat kerja yang saya miliki jadi tidak kondusif. Saya jadi malas untuk datang ke workshop sendiri cuma gara-gara hal itu. Saya mau mereka tahu, khususnya ‘oknum-oknum’ tersebut, bahwa saya tidak memaksa pasangan mereka untuk bekerja. Saya selalu bilang kalau mau keluar atau berhenti bisa kapan saja asalkan sudah menemukan pengganti. Sama-sama saling bantu lah.

Saya juga mengerti alasan team saya tidak mau berhenti dulu. Mereka sudah ada dari awal usaha saya berdiri sampai sekarang. Wajar jika merasa sayang. Mereka berpikir sudah susah-susah melewati berbagai macam kesulitan, tapi harus keluar padahal tinggal sedikit lagi bisa ikut memetik hasil dari jerih payahnya. Atau mungkin bisa jadi banyak alasan lainnya juga sih. Yang jelas memang sudah resiko saya kenapa mau menjalani ini semua.

Cuman ga enak aja dicemberutin sama anggota team suami sendiri. Kebetulan pasangan team saya bekerja dengan team suami. Dan kini saya sadar memang semua sepenuhnya kesalahan saya yang longgar sama sistem kerja, haha, maklum entrepeneur newbie…. XD
Saya jadi mengerti kenapa kantor-kantor besar yang sudah profesional dan berpengalaman punya aturan tidak boleh memperkerjakan pegawai pasutri di satu kantor yang sama! Pelajaran buat saya biar lebih hati-hati dan teliti dalam membangun sistem kerja.

Back to topic. Saya sering curhat sama suami. Kenapa sih saya jadi dimasukin juga ke masalah rumah tangga mereka. Padahal kan ga usah ‘ketus’ dan ‘cemberut’ begitu tiap bertemu atau tegur sapa. Pekerjaan pasangan mereka beserta keadaan saya yang jadi dedengkot kerjaan itu jadi alasan untuk membenci. Lagian, bukannya merasa ‘takabur’ atau apa. Ok lah, hak semua orang bisa tidak suka sama siapa saja termasuk saya. Tapi, seenggaknya walaupun merasa sebal dan tidak sudi menghormati saya sebagai atasan pasangannya, mungkin bisa menghormati saya sebagai sesama teman atau rekannya yang sudah memberikan kesempatan bekerja padanya.

Jadinya tanggung/setengah-setengah, pengen saya bisa merasakan kalau lagi ‘dibenci’ tapi ga berani bilang langsung bahwa saya itu ‘ngeselin’ karena jadi penyebab pasangannya kerja. Padahal saya ga maksa loh! Saya juga sudah beberapa kali menawarkan pasangannya buat berhenti kerja kalau memang tidak diizinkan atau tidak diridhoi pasangan masing-masing. Saya juga bingung kenapa masih marah. Entah mungkin pasangannya tidak menyampaikan apa yang sudah saya tawarkan. Yang jelas itu masalah intern mereka. Saya ga berhak dan TIDAK berani ikut campur. Tapi saya jadi merasa dipaksa untuk ikut-ikutan memikirkan keadaan masalah intern mereka.

Intinya…. minimal, sudahlah sifat ‘ketus’ dan ‘cemberut’nya di stop dulu kalau lagi komunikasi kerja. Kan jadi ga enak…. huhu :( Atau bersikap sportif, kalau memang ga enak, ya bilang aja terus terang. Kalau ga enak atau ga berani bilangnya ya ga usah marah-marah ga jelas juga kaan…. :D

Tapi memang sih, Seandainya saya ini RATU dari negeri antah berantah sekalipun, selamanya tidak akan bisa memaksakan kehendak seseorang untuk bertindak ataupun membenci. Da aku mah apa atuh, kalo kata orang, cuman ibu-ibu yang bisanya nyuruh-nyuruh aja :(

my beautiful life

Kata suami saya, sepertinya masalah yang saya hadapi itu hanya kesalahpahaman intern antara mereka saja yang kurang komunikasi. Terus yang namanya orang lain, pemikirannya tentang saya bisa saja berbeda. Tidak tahu atau tidak paham bagaimana susahnya saya mengurus ini-itu. Taunya saya hidup enak, senang-senang, main, makan, shopping, habisin uang, nyuruh oranglain kerja keras, dan lain sebagainya. Kalau orang itu paham, ga mungkin-lah sampai uring-uringan tiap bertemu. Yang ada malahan mungkin bisa merasa kasian sama saya. Hehehe…..

Dulu saya sempat down juga (perasaan sering ya down nya :p) oleh oknum karena selalu dihubung-hubungkan dengan ‘working mom is a mistake’ theory. Merasa semua adalah kesalahan saya yang memilih menjadi ‘ibu pekerja’ beberapa waktu lalu. Saya sangat terhibur dan bahkan tersanjung saat suami dulu pernah ‘berpidato’ untuk menyemangati saya. Katanya begini….

Walaupun banyak kegiatannya toh tetep aja buat aku kamu itu full-time mom buat Rafa. Ga ada yang namanya part-time mom. Cari nafkah adalah kewajiban suami. Tapi kan umur itu rahasia, ga akan ada yang tahu selain Allah. Mending klo suami sehat dan rejekinya bagus terus. Bagaimana kalau dapat musibah yang membuat suami tidak bisa apa-apa lagi, atau umurnya lebih pendek daripada istri. Dan bagaimana kalau giliran ditegur karena manusia bisa khilaf. Atau diuji kekayaannya, karena dunia ini pasti berputar, kadang kita dibawah kadang kita diatas. Lalu istri tidak ada pekerjaan. Keluarga mau makan apa? Apa pantes nyusahin orang tua lagi setelah kita susah-susah dibesarkan hingga dewasa oleh mereka dengan susah payah ? Rejeki sudah diatur oleh Allah, tetapi tidak akan tiba-tiba datang dan jatuh dari langit begitu aja kaya di film-film. Allah tidak akan merubah suatu kaum jika kaum itu tidak berusaha.

Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal. Kalau di ambil huruf awalnya semua jadinya DUIT. HEHEHEHE…..

Akhirannya kurang bagus ya permirsa :p Maaf hal yang jeleknya ga usah dituruti dan dimasukan ke hati. Cuma bercanda. Maksudnya sebagai manusia harus senantiasa berdoa berusaha berikhtiar dan tawakal. Tidak boleh menyalahkan keadaan, seperti yang sering saya lakukan dahulu. Dan terus terang saya menyesal. Dulu kalau berhadapan dengan masalah seperti ini saya suka langsung main tegur aja face to face pas orang lain sudah tidak ada. Tapi itu bukan jalan yang baik. Sebaik-baiknya orang adalah yang tidak membalas walaupun punya kesempatan untuk membalas. Saya Ga mau mengulang kesalahan yang sama. Karena saya sadar ini merupakan resiko sendiri. Dan saya ingin berusaha untuk menjadi lebih baik.

Istilahnya, mau ada orang yang ga suka sama saya terus guling-guling di depan mata juga ya udah cuekin aja, toh ga merugikan apa-apa. Emang sih tau ada orang yang sebel itu agak ‘nyelekit’ ke hati. Tapi, masa sih cuman sama satu atau beberapa orang aja udah ‘lebay’ banget sampe menguras pikiran, sayang lah tenaganya… :)

(* berusaha mencari pembenaran demi menyemangati diri sendiri*).

Apalagi nanti kalau misalnya sudah punya brand atau perusahaan besar yang profesional. Sudah pasti bakalan banyak hal-hal yang tidak mengenakan. Dari sekarang Harus bisa belajar mengatasinya. Semangat!! Fight!

Last paragraf mau pasang status yang pernah suami saya tulis saja lah, biar keren :D

Bersukurlah dengan semua yang telah terjadi di hidupmu. Jgn pernah iri dengan kehidupan orang lain, karena belum tentu mereka seperti apa yang engkau pikirkan… Aku bangga dengan kehidupanku, dengan istri dan keluargaku, dengan semua masalahku… #note_to_myself

 

Suami saya paling ganteng kalau ‘lagi bijak’ :p

PS : makanya sekarang ga berani komen-komen kaya gini,

“duh, enak banget jadi dia”…

“wooww sempurna banget hidupnya..”

“mauu doonkkk jadi seperti dia, hidupnya perfect sekali!!”

ke selebritis, hehehe…

Positive Thinking memang harus dimulai dari diri saya sendiri. Hehehe… Mohon dengan sangat untuk dimaafkan apabila ada banyak kesalahan dari saya ya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment *